Oleh: jornabae | Januari 22, 2009

Selingkuh Itu….( Sesi : Keterbukaan>>>Prioritas )

Wednesday, 17 December, 2008

Selingkuh Itu….( Sesi : Keterbukaan>>>Prioritas )

Nah ini tentang selingkuh versi sampai enegnya 😀
Jadi siap-siap ya sediakan kantong plastik kresek…:P

Kita lihat dulu dari makna katanya : selingkuh >>>suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri , tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong.

Kata menyembunyikan, dilihat dari asal kata sembunyi yang berarti : suatu keadaan atau kondisi yang tidak ingin terlihat/kelihatan oleh karena suatu alasan tertentu.
Pada kasus selingkuh, jelas alasan utama ketersembunyian itu adalah karena si pelaku selingkuh merasa perlu untuk membela kepentingan pribadinya.
Mari kita simak cerita berikut :

Anton dan Isna sudah berpacaran kurang lebih 3 tahun, dan sedang dalam masa persiapan pernikahannya. Anton adalah seorang pengusaha muda yang sedang menanjak karirnya di bidang perdagangan aksesoris handphone. Dia seorang importir muda yang banyak menghabiskan waktunya di kantor dengan bisnisnya. Sedangkan Isna adalah seorang sales eksekutif di salah satu produsen mobil terkemuka di tanah air. Dan Isna adalah pemegang rekor penjualan tertinggi se Indonesia. Mereka berdua bertemu ketika kantor Isna sedangn mengadakan launching perdana mobil keluaran terbaru dan Anton menjadi klien sekaligus pembeli pertamanya.
Sejak pertemuan itu, mereka berpacaran. Dan sampai kemudian mereka berdua yakin untuk melanjutkan hubungan serius. Mereka sudah banyak melakukan kesepakatan, mulai dari berapa biaya yang mampu mereka keluarkan sampai dimana dan seperti apa kelak pesta pernikahan. Ya, tinggal 2 bulan lagi mereka sampai di hari H.
Hari-hari mereka berdua terasa mendebarkan dan menebar senyum selalu…sampai suatu hari, saya menerima telpon Anton yang minta bertemu saya segera.

Kami duduk di meja cafe yang paling sudut, di dekat kolam yang penuh
dengan ikan warna-warninya. Anton tampak menahan kegelisahannya.
“Kami bertengkar hebat! Mungkin lebih baik batal saja pernikahan itu!”
” Aku kurang apa sih, Jorna?” Anton membuka diskusi.
Lanjutnya : ” Bisa ya, kami yang tinggal menunggu tanggal mainnya doang, jadi gini? Bisa-bisanya Isna jalan lagi ama mantannya?? Okelah waktu itu kuberi ijin sekali, karena alasannya masuk akal, jangan memutuskan tali silahturahmi. Tetapi kok jadi keterusan silahturahminya?? Bahkan mulai berbohong padaku demi ketemuan dengan mantannya itu! ” Wajah Anton menegang.
Saya tersenyum sambil berusaha menenangkannya. Setelah saya minta Anton mengeluarkan semua ganjalan hatinya.
Ini hasil analisanya, secara saya adalah konsultan khusus percintaan :

“Aku kurang apa sih?”
Ini kalimat populer di areal percintaan, ketika perjalanan cinta sudah mulai berhambatan.
Pada sisi pandang Anton, dia berpendapat bahwa apa yang sudah dilakukannya untuk Isna adalah yang terbaik. Terbaik di mata Anton. Mungkin Anton lupa-karena kesibukannya bekerja-untuk coba merenungkan ulang dengan pikiran dan hati dingin, ketika Isna mulai berbohong : mengulang-ulang pertemuan dengan mantannya dengan dalih silahturahmi. Atau jika memang mengalami kesulitan untuk menganalisa, bukankah lebih baik menemui konsultan? (seperti menemui saya -red :D)
Dan Anton bertindak tepat, tidak hanya berkutat pada tanya “aku kurang apa sih” tetapi dia datang pada saya untuk berkonsultasi.

Yuk kita cari tahu, kenapa Isna mengulang terus pertemuan dengan mantannya. Keputusan Isna untuk berani berbohong di saat pernikahan tinggal menunggu waktu, yang cuma 2 bulan, tentulah dilandasi satu kepentingan yang amat kuat.
Saya garis bawahi : kepentingan yang amat kuat.
Secara umum kita akan berpikir, mungkin nostalgia dengan mantannya? Kendati ada yang berpendapat : Ngapain lagi sih pake nostalgia segala?
Jika sekali waktu saja dan tidak berbohong, mungkin hanya sekedar nostalgia.
Sekarang kita lihat : Isna mengulang pertemuan dengan membohongi Anton, menyembunyikan maksud untuk kepentingan pribadi, jadi ini masuk kategori selingkuh! (bukan sekedar nostalgia lagi). Mungkinkah Isna tidak menemukan sesuatu yang ada pada Anton? Dan itu adanya di mantan kekasih Isna? Ya, pasti ada yang Isna masih butuhkan pada diri mantannya. Kita tidak akan mencari detail kebutuhan Isna itu, tetapi kita akan melihat kualitas dari kebutuhan itu. Pasti kebutuhan ini punya kualitas tinggi/prioritas, sebab Isna tetap mengejar ini walau harus mengambil resiko besar dengan melakukan perselingkuhan, apalagi justru pada momen yang seharusnya Isna sudah tak lagi terlanda momentum seperti ini…
Bayangkan, ini terjadi di saat 2 bulan menjelang pernikahan!
Dan jawaban yang muncul dari Isna adalah : “Maaf Mas, aku ternyata masih terhanyut dengan masa-laluku…”

Jadi, kenapa terjadi selingkuh?
Jelas ada yang kurang pada pasangan utamanya, kebetulan kekurangan itu ada pada sosok lain yang otomatis akan disembunyikan demi kepentingan pribadi 😀
salahkah selingkuh?
salah–>>untuk pihak pasangan utamanya : pacar/suami/istri.
benar–>>untuk peselingkuhnya.
Lalu solusi?
Saran saya pada Anton adalah :
1.
Coba evaluasi lagi target utamamu dalam menjalankan hubungan yang sudah terjalin dengan pacar/calon mempelaimu, dan lakukan ini sendirian dulu. Setelah oke, lanjut ke…
2.
Cari tahu apa latar belakang Isna melakukan perselingkuhan dengan mantannya. Bicarakan ini berdua secara jujur terbuka dengan Isna.
Ajak pergi ke tempat biasa kalian bisa merasa nyaman berduaan.
Di kenyamanan yang sudah mulai terbentuk, mulailah perlahan mengaji-ulang perjalanan cinta kalian yang sudah tinggal 2 bulan lagi akan terwujud dalam ikatan suci pernikahan. Urai satu demi satu keniatan kalian berdua yang mengantarkan kalian ke kesepakatan menikah. Kekurangan apa yang masih terasa mengganjal, bukalah dengan kejujuran. Pada kasus ini, tanyakanlah lebih  mendalam, kebutuhan apa yang membuat Isna sampai bertindak “nekat” berselingkuh. Kebutuhan yang ada pada jejak masa-lalu Isna yang ternyata mungkin Isna sendiripun terkejut menyadarinya, kok masih ada, dan mampu membuatnya berselingkuh.
Kearifan Anton amat diperlukan saat ini, bantulah Isna dengan mengurai kebutuhan masa lalunya ini.
Apapun hasilnya, logika sangat berperanan penting untuk mendapatkan hasil terbaik dari pembicaraan itu.

Lalu, saran untuk Isna :
Luangkan waktu pribadi untuk segera merespon sikon ini. Lakukan sendiri dulu, setelah matang baru bicarakan dengan pasangan yang bersangkutan.
1. coba evaluasi lagi target/kebutuhan utamamu dalam menjalankan hubungan yang sudah terjalin dengan pacarmu.
2. evaluasi juga target/kebutuhanmu terhadap selingkuhanmu ini.
3. saatnya logika bekerja : lihat ke alam nyatamu. jika terjadi perubahan pun akan tetap yang terbaik yg akan kamu putuskan (misal jadi milih selingkuhanmu pada akhirnya)

Pesan :
Akan lebih baik batal menikah, walau bahkan tinggal mengucap ikrar di momen peneguhan pernikahan daripada memaksa menikah sementara pikiran sudah terbelah. Bayangkan jika batal menikah alias cerai ketika kalian sudah punya anak, mereka akan jadi korban tak bersalah…menambah dosa berlimpah.

bersambung
di : Selingkuh Itu….( Sesi : Memahami Kebutuhan Prioritas Pribadi. )

—————————————————–
terposting di : Saturday, 10 January, 2009
http://www.perfspot.com/blogs/myblogs.asp
http://marikupandu.blogspot.com/
http://en.netlog.com/jornabae/blog/blogid=3025151
http://jornabae.blog.friendster.com/
http://www.penulisindonesia.com/jornabae/blog/4671/

Iklan
Oleh: jornabae | Desember 12, 2008

*Bapak dan kamu (tentang : rehat)*

09:01:35 PM  Saturday, 01 March, 2008

*Bapak dan kamu (tentang : rehat)

Kita tak bisa hindari prosesi2 ketubuhan kita,nak.
Sesekali bolehlah kita membiarkan keterpurukan datang,tetapi lebih kuatkanlah memegang kendalian logikamu. Sebab di titik inilah logika seperti mengalami hambatan pada proses transferingnya…ya ga selancar ketika normal. Apalagi di usiamu,nak…masa pergolakan yang naik turunnya begitu drastis. Masa yang,konon,oleh sebagian besar orang tak terselesaikan dengan mulus.
Ayo kita ke rumah nenek…dan amati kesehariannya.
Kamu ingat kan ketika nenek masih sering menginap di rumah kita?
Kecerewetannya…keuring2annya…adalah keluaran dari pergolakan jiwa pada usia mudanya yang masih belum tuntas.
Huhuhuhuhu…ingat kan ketika bapak kena semprot nenekmu? Saat itu bapak sedang menyiram tanaman di taman belakang. Tanaman kesayangan nenek yang terletak di deretan paling ujung,terjauh dari kran…tentunya akan kena siram paling akhir…tetapi nenekmu keburu ngomel2 karena siraman air bapak belum sampai ke kamboja bangkoknya…:P
“Kamu gimana sih,Jor…tanamanku kok ga kamu siram juga? Jangan2 ga pernah disiram yah,kalau mama ga kesini??” semprot nenek sambil merebut selang air di tangan bapak. Mungkin lebih dari lima menit nenek terus menyirami kambojanya,mulutnya tak kenal jeda sedikitpun. Lalu nenek tambah keras lagi ngomelnya ketika menyadari akar kambojanya mulai kelihatan karena tanah dalam potnya banyak yang keluar terbawa air…
“Jor,gimana kamu ini,apa potnya ga pernah ditambah tanahnya? Masa akarnya keliatan gini?Awas ya kalau sampai tanamanku mati!”
Saat itu bapak cuma diam ga menjawab. Dan kita saling berpandangan menahan senyum.

Seperti halnya juga padamu,nak.
Karena belakangan ini kerjaanmu banyak halangan,ditambah lagi pertengkaran kalian. Wajar,nak…ketika tubuh kita kurang fit,maka masa resesi akan cenderung datang.
Kita semua pasti mengalaminya. Yang membedakan hanya penanganannya saja. Tetapi seberapa banyak orangtua yang pahami hal in terhadap anak2nya?
Pengetahuan/tradisian mana dalam kehidupan sehari2 kita yang bisa menjadi acuan?
Sudah seperti tertulis di langit,nak…bahwa hal yang menyangkut ke kejiwaan,tidaklah mayoritas orang bisa pahami. Kenapa? Sebab kehidupan di dunia ini lebih berkecenderungan ke ketubuhan/material…semua yang bisa dilihat dengan mata kita. Bahkan beberapa logika dulu pernah mengantikan hal2 yang tak terlihat atau berbentuk nyata. Kalau pun ada hanya sebatas pepatah…dongeng yang terus menerus diceritakan tanpa dinyatakan dalam kehidupan sehari2. Inilah yang sering bapak bilang sebagai sloganitas belaka…atau juga dengan istilah siklusif…(lahir – balita/anak – remaja – pekerja – menikah – beranak – bercucu – mati)
Hahahaha…jadi ingat 7 orang (psikolog semua)
yang mengatakan bapak sebagai personal yang anti-bumi. Psikolog balegug tea…yang begitu bangganya memajang teori orang yang sudah mati 300 tahun lalu di toga-dadanya. Dan membuka satu per satu teorinya untuk menghakimi bapak saat itu…:D
Masa teori kadaluarsa masih kalian pakai,bahkan mengganggapnya laksana mantera gaib buat nyari duit…:D
Bapak orang aktuali..mana mempan…
Bapak kan undogmatisir…:P 😛

bersambung :
_____________

Oleh: jornabae | Juli 20, 2008

Dalam Bus Yang Tengah Melaju.

Tentang : ketidakberdayaan. (kata-mu)

Cukup memeras pikiranku, untuk menjelaskan ke kamu. Aku jenuh dengan keluhmu selalu tentang rasa tidak berdayamu, atas deraan kehidupan yang harus kaulalui.

Berulang kali kukatakan, tidak hanya diri-mu, semua orang mengalami masing-masing “deraan”nya. (btw : aku lebih suka mengganti kata “dera” dengan “tempa”)

Tentang ketidakberdayaan, ya akhirnya kutemukan gambaran yang pas menurut-ku. Semoga nanti kamu akan bisa mencernanya dengan mudah dan senyumlah selalu, hehehe ini penting, untuk bangkitkan kekuatan diri.

Nanti akan kuajak kamu naik bus. KIta pilih jalur nyaman yak, busways 😀  Agar suasana sejuk dalam bus bisa membantu membuka pikiranmu.  Mari…

Kita mulai dari…waktu.  Waktu kita masih AKAN membeli tiket, kita masih punya beberapa pilihan, seperti : kapan kita akan membeli, atau menunda keberangkatan, bahkan membatalkan rencana untuk pergi dengan naik busways dan ganti pilihan naik taksi, dstnya. Semua ini masih bisa terserah pada kita untuk memutuskan apa.  Gimana? Sudah masuk ke situasi pikir ini?

Baik, kita lanjutkan ke waktu SUDAH membeli tiket dan sedang ada dalam masa menunggu busway berhenti menjemput penumpang di halte ini.  Dalam kondisi ini, kita pun masih bisa memutuskan untuk batal naik ke dalam bus, sesaat bus sudah datang membuka pintu otomatisnya. Lalu terserah kita, mau pulang atau nunggu ditegur petugas haltenya 😛

Nah ini poinnya. Adalah waktu kita SUDAH ada dalam bus yang tengah melaju. DI kondisi ini, kita hanya punya pilihan pastinya. Tetap duduk sampai di tujuan dan berarti kita MENYERAHKAN keinginan pribadi kita selama ada dalam bus yang tengah melaju ini. Boleh dikatakan, keinginan kita pada saat ini tergantung pada pengemudi busnya. Atau, kita memutuskan untuk berhenti dan turun di halte pertama di depan sana, dan kita batalkan rencana awal kita untuk sampai ke tujuan.

Yang ingin kugambarkan kepada-mu, adalah “bagaimana rasa tidak berdaya” yang sebenarnya (ideal) yang kita ALAMI pada saat kita ada dalam bus yang tengah melaju. Bahkan jika berpikiran negatif, kita bisa sampai di pikiran bahwa nyawa kita sesungguhnya terletak di kedua tangan sang pengemudi busnya, di stang kemudi bus : wow!!

Nah, sekarang tinggal tugas-mu, untuk merenungkan pengalaman kita naik busways. Jangan cuma ingat sejuknya dalam busways, yak! Tetapi segera bandingkan sikon yang kamu alami selama dalam bus melaju tadi dengan sikon keseharianmu. Seperti sikon karirmu, yang tiap tahun gonta-ganti bos…siapa tahu, sebenarnya yang bermasalah adalah diri kita sendiri. Ternyata selama ini kita belum bisa beradaptasi dengan baik ke lingkungan hidup kita. Seperti kita menuntut dunia sekitar harus bisa memahami diri kita, tetapi kita sendiri tidak melakukannya terhadap lingkungan hidup kita. Tak bisalah hidup bersosialisasi hanya searah. Dan…hidup ini baik-baik saja kok, deraan hanyalah pola berpikir negatif kita dalam menghadapi dan menjalani peran kita dalam kehidupan ini.

Sekian dulu? Nanti kuceritakan tentang “pola berpikir” Mari…semoga bermanfaat.

Salam.

Oleh: jornabae | Juli 20, 2008

Catatan Kecil Demi Buku Terimpi…

Mencari luang waktu di sela kerutinan nafkahi…

lalu menata pikir, renung rambah ke putaran nafas sekitaran…

HIngga di satu titik temu…

ide-ide terpendam menunggu teman

yang hehe, telat lahirnya semua…:P

Tetapi, 20 tahun menunggu tak sia-sia, semoga…

Inilah awalannya.

Kucatat ide demi ide yang muncul

yang kan jadi pembrainstorming partnerku dalam mewujudkan segenap pikir…

semoga bermanfaat…

semoga…

Kategori